Tuesday, May 26, 2015

Jiwa Indonesia untuk Mahakarya Indonesia yang Indah


BinderCerita - INDONESIA, Negeri Nusantara dengan ribuan jenis bahan makanan yang tertanam di tanahnya. Ribuan budaya yang mengalir di setiap darah rakyatnya. Dan ribuan tekat yang terbentuk di setiap jiwa dan raganya.

Sejak kecil aku selalu tinggal di kota. Aku tidak telalu mengerti tentang kebudayaan Indonesia, tentang adat istiadat indonesia, ataupun tentang kesabaran dalam membentuk Mahakarya Indonesia.

Tapi semua berubah ketika aku datang ke sebuah tempat yang terletak di sudut pulau jawa bersama keluarga. Itu adalah kali pertama aku diajak ke rumah nenekku. Dimana disana aku mulai belajar untuk mengerti, belajar untuk memahami, dan belajar untuk merasakan perasaan rendah hati dari budaya indonesia.

Ketika sampai, seorang nenek menyambut kami di depan teras rumah sambil ditemani kursi goyangnya yang terbuat dari rotan. Wajahnya yang tidak muda lagi tersenyum pada kami. Kain batik yang terlihat baru seperempat jadi hinggap di pangkuannya.

Beberapa hari sejak pertama bertemu, aku selalu melihat nenekku membatik dari pagi hingga sore hari di waktu senggangnya. Bagi jarinya yang tidak lincah lagi, dan matanya yang mungkin sudah mulai rabun, membuat satu kain batik pasti akan memakan waktu yang sangat lama.

Pernah aku menghampiri nenek dan mencoba untuk ikut membatik, tapi kemudian aku menyerah dalam hitungan menit. Hal yang aku pelajari, membatik memerlukan kesabaran yang luar biasa. Dan jari-jari mudaku tidak sanggup menggoreskan satu corak pun pada desain di batik itu.

Ketika aku bertanya kepada nenek, mengapa ia begitu suka membatik? bukankah hal ini begitu sulit bagi umurnya yang sekarang?
Nenek hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa batik adalah salah satu warisan budaya yang indah dari indonesia. Batik pertama kali diciptakan dari tangan orang yang sama sekali belum pernah mengenal batik. Mereka bersabar, memerika gigih, dan mereka bekarya sehingga terciptalah batik yang kita kenal seperti sekarang ini.

Jika dibadingkan dengan kita yang telah mengenal batik, mereka yang dulu menciptakan batik pasti lebih sulit lagi. Namun mereka tidak menyerah, dan dengan kegigihan itulah mereka berhasil menciptakan Mahakarya Indonesia yang luar biasa indahnya.

Sedikit kata yang terucap dari nenek membuat aku malu. Aku rakyat indonesia, tapi malah cepat bosan dengan budaya indonesia. Sekali lagi aku mencoba membatik, belajar dengan nenek dari siang itu sampai sore hari. Jari-jariku mulai terbiasa menggoreskan warna di setiap garis desain pada kain ini.

Dengan gotong royong kami berdua, batik itu selesai lebih cepat dari perkiraan nenek. Batik itu selesai dan terlihat indah. Rasa puas bersandang di dalam hati. Ini kali pertama aku membuat suatu karya. Dan karya itu adalah salah satu budaya indonesia. Terbesit di hati untuk bertanya, untuk apa batik ini setelah selesai dibuat?

Nenek mengajakku ke sebuah pasar, terlihat beberapa orang yang tertunduk lesu di pinggir pasar, salah satunya memegang seorang anak balita. Kain batik yang sejak tadi ada di dalam kantung kresek si nenek di keluarkan dan diberikan kepada balita tersebut. Hati ini kemudian berawan, sedikit kekecewaan karena batik yang dibuat susah payah diberikan ke orang. Dan banyak kebahagiaan karena apa yang telah dibuat berarti bagi orang lain.

Di saat itulah aku mulai mengeri arti dari kata Jiwa Indonesia, jiwa yang mengasilkan warisan indonesia, dimana setiap gotong royong, setiap kegigihan, setiap kerendahan hati dan setiap kesabaran pasti akan mengasilkan suatu Mahakarya Indonesia yang sempurna. Mahakarya yang tentunya juga berarti untuk orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri.


Ditulis dan dipublikasikan oleh Ridho Amanatullah
Peserta "Mahakarya Indonesia - Jiwa Indonesia"

Scroll to Top